Monday, February 8, 2010

seluk beluk ikan nila

http://ikannila.com/Mengenal%20Ikan%20Nila%20dan%20Legendanya.htm

TEKNIS JANTANISASI IKAN NILA

Berkat kesungguhannya menghasilkan benih nila jantan, H. Ahmad Zakaria mendulang sukses dan menjadi panutan warga Desa Cipuruy, Kec. Lido, Kab. Bogor.


Meski kurang dibekali pendidikan formal yang memadai, H. Zakaria tak patah semangat dalam memajukan usaha tani perikanan, terutama nila. Pria kelahiran Bogor, 31 Juli 1932 ini mengaku mendapat keterampilan menangkarkan ikan nila dari orang tua yang berprofesi sebagai petani nila.

Pada 2002—2003, ia mendapat bantuan lahan seluas 5.000 m2 dari Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) Pusat untuk memproduksi nila jantan. Awalnya, ia mendapat bimbingan dari lembaga tersebut kemudian dilanjutkan sendiri.



Dijual Rp17.500 per Liter

Sejak itu, H. Zaka, begitu ia disapa, mulai akrab dengan pembenihan nila dengan teknik sex reversal atau jantanisasi untuk menggenjot produksi benih berkualitas. Nila jantan sengaja diproduksi karena tumbuh lebih cepat dibandingkan yang betina. Maklum, nila betina reproduksinya relatif cepat sehingga tubuhnya tidak dapat berkembang maksimal.

Populasi nila jantan juga bermanfaat mencegah pemijahan liar yang membuat perkembangbiakan nila tak terkendali sehingga kolam penuh berbagai ukuran ikan. Akibatnya, kualitas ikan dihasilkan rendah. Pemeliharaan nila jantan 100% mendukung tampilan produk yang dihasilkan dan mampu meningkatkan produksi nila.

”Nila yang dibutuhkan eksportir bobotnya minimal 1 kg. Sementara nila betina hanya mampu mencapai bobot 0,3 kg dalam waktu yang sama (6 bulan). Secara logika dan praktek, jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan betina,” jelas Zakaria.

Zakaria tak hanya trampil menangkarkan benih nila, tapi juga mampu melihat dan menangkap peluang pasar. Tak heran kalau ia lebih memilih memproduksi benih nila jantan yang dinilainya lebih menguntungkan. Ia ingin menyuplai kebutuhan petani ikan dengan nila jantan yang produksinya bisa diekspor.

Pasar benih nila jantan cukup bagus. “Kalau kita tampil dengan merek (brand) beda, harganya pasti lebih bagus dan stabil karena belum banyak yang bisa memproduksi,” tandas Zaka. Benih nila biasa dijual Rp10.000 per liter, sementara nila jantan Rp17.500 per liter. Satu siklus ia mampu menghasilkan 200 ribu – 250 ribu benih atau 800—1.000 liter benih ukuran 1 cm..



Sebelum Umur Seminggu

Untuk mendapatkan benih nila bermutu, H. Zaka menggunakan induk yang telah disertifikasi Balai Besar Budidaya Air Tawar (BBAT), Sukabumi. Ia menyiapkan kolam seluas 500 m2 untuk satu paket induk yang terdiri dari 300 betina dan 100 jantan. Selain itu, juga disiapkan sejumlah hapa untuk menampung larva.

Pemijahan nila dilakukan secara massal. Pertama, kolam ikan dikeringkan 3—5 hari dan diisi air setinggi satu meter sebelum induk nila dilepas ke kolam. Limabelas hari kemudian, larva nila mulai diambil dan ditampung di dalam hapa. Larva nila dipanen setiap hari selama tiga bulan.

Produksi benih H. Zaka sekitar 4.000—14.000 ekor per hari, bergantung kondisi cuaca. Menurut pengalamannya, benih nila tumbuh dengan baik pada suhu 28— 29oC. Benih diberi pakan pellet yang telah dicampur hormon alfa metil testosteron (AMT) dua kali sehari. Setelah itu ikan dipindahkan ke kolam pendederan yang sudah dipupuk. Sebulan kemudian ikan sudah bisa dipanen. Jadi sekitar 50 hari benih sudah bisa jual.

H. Zaka memproduksi nila jantan dengan pakan berhormon yang diberikan selama 20 hari, meskipun para peneliti merekomendasikan sebulan. Alasan dia, hasilnya tidak berbeda karena benih ikan hanya mau berubah menjadi jantan dari 1—7 hari.

Proses jantanisasinya juga dipilih yang melalui pakan ketimbang perendaman karena lebih efisien. “Hormon ‘kan mahal, satu gram harganya Rp125 ribu. Hormon 0,06 gram bisa dipakai untuk 10 ribu ekor benih. Sedangkan dengan perendaman paling hanya 2 ribu ekor,” kilahnya. Tingkat keberhasilan menghasilkan benih nila jantan mencapai 90% dan bisa ditingkatkan jika penangkapan larva betul-betul sempurna. “Jadi, tingkat keberhasilan bukan dari obat, tapi dari waktu penangkapan larva.,” H. Zaka menutup pembicaraan.

URUTAN TEKNIS;

1. Siapkan pellet untuk benih nila sebanyak 1 kg di dalam sebuah baki.

2. Larutkan hormon AMT dalam alkohol 95%, setelah itu masukkan ke dalam semprotan.

3. Semprot pelet di dalam baki dengan larutan hormon AMT, aduk hingga merata.

4. Angin-anginkan 10 – 15 menit dan simpan dalam plastik hitam sebelum digunakan.

5. Berikan pada benih nila selama 20 hari

source; http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=10&aid=921

Sunday, February 7, 2010

NILA JANTAN PERTUMBUHAN 90% LEBIH CEPAT DARI NILA BETINA

CARA MEMBUAT NILA MONOSEK

Untuk mencetak sampai 90% jantan dari 60.000 larva nila cukup memakai 1.200 mg hormon metiltestosteron. Sialnya, hormon sintetis impor itu harganya mahal, mencapai Rp1,3-juta/g. Kendala utama para pembibit itu kini lenyap setelah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menghasilkan metiltestosteron dari testis sapi. Selain murah, Rp200.000/100 g, hasil jantanisasi melampaui angka 90%.

Jantanisasi (sex reversal) pada Oreochromis sp sudah dilakukan di Pulau Jawa sejak 1998. Meski demikian tak mudah diterapkan para peternak. Contoh Muchsin, peternak di Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Sejak belasan tahun menekuni pembibitan nila, mendapat mayoritas bibit jantan menjadi halangan besar. -Sulit karena ketersediaan hormon terbatas,- ujarnya. Bibit jantan disukai peternak karena pertumbuhannya 87-91% lebih cepat daripada betina. Waktu panen pun lebih singkat, bibit jantan hanya butuh 4 bulan untuk mencapai bobot 450-500 g/ekor; betina, 6 bulan.

Muchsin bukan tanpa usaha. Selain langka, tingginya harga metiltestosteron menghambat proses jantanisasi. Maklum, untuk 1.250 larva nila butuh 25 mg metiltestosteron seharga Rp12.500. -Harga itu sebelum krisis moneter pada 1998. Kini merangkak naik karena impor dari China dan Thailand,- tambah Muchsin. Oleh karena itu pada 2005 Muchsin mencoba metiltestosteron buatan BATAN. 'Selain murah, tingkat keberhasilannya tinggi,' ujar Muchsin yang mengujicobakannya pada 20.000 larva berumur 7 hari.
Uji konsentrasi

Testis sapi yang selama ini menjadi limbah, ternyata kaya testosteron. Berdasarkan uji radio immuno assay (RIA) memakai yodium-125, ekstrak jaringan testis sapi mengandung kadar testosteron lebih tinggi ketimbang mencit, domba, dan kambing. -Jumlahnya sekitar 30% lebih tinggi daripada domba dan kambing,- kata Dra Adria PM, peneliti sex reversal dari BATAN. Tingginya konsentrasi menunjukkan jumlah hormon androgen penghasil sel jantan lebih banyak.

Hormon metiltestosteron dibuat dengan cara mengiris-iris testis sapi menjadi kepingan-kepingan kecil seukuran 5 cm. Potongan itu lantas dioven pada suhu 60o C. Setiap 100 g tepung testis ditambahkan metil alkohol 70% sebanyak 50% dari total volume.

Hormon yang telah jadi diaplikasikan dengan cara dipping (rendam, red) dan oral. Namun, menurut Adria hasil terbaik jantanisasi diperoleh dengan cara perendaman larva berumur 3-10 hari. Saat itu kelamin jantan dan betina larva belum terbentuk. Itu pula yang diterapkan Muchsin saat 'mengubah' kelamin larva umur 7 hari dalam akuarium berukuran 100 cm x 30 cm. Muchsin mencampur 50 g hormon ke dalam 400/l air selama 18 jam. Larutan dituangkan ke dalam bak berisi larva. Bak pembenihan berukuran 3 m x 2 m itu disekat menjadi 5 bagian.

Kelamin ikan sudah dapat dibedakan secara kasat mata 2-3 minggu kemudian. Jantan bertubuh panjang dan betina perutnya buncit. 'Hasil yang didapat 95% jantan,' ujar Muchsin. Agar pertumbuhannya lebih cepat, burayak-burayak itu diberi pakan berupa campuran pelet dan hormon metiltestosteron. Dosisnya 200 cc hormon cair diaduk merata untuk 1 kg pelet. Pakan itu diberikan selama 7 hari berturut-turut setiap pagi dan sore. -Bibit sepanjang korek api, hanya butuh waktu pemeliharaan 2 bulan; umumnya 4 bulan,- kata Muchsin.

Dosis tepat

Sejatinya jantanisasi bisa dilakukan pada bibit yang agak besar, tidak semata larva. Itulah yang dicoba Oneng, peternak di Bandung, Jawa Barat, pada ikan mas. Pakan yang mengandung hormon metiltestosteron diberikan setiap pagi. Hasilnya, 10.000 bibit ikan ukuran 4 cm dalam kolam 1 m x 1 m itu sebanyak 70% jantan dan sisanya betina. Bibit ikan umur 3 minggu itu selanjutnya dipindahkan ke kolam pembesaran berukuran 4 m x 9 m.

Menurut Oneng selain menghasilkan jantan lebih banyak, pertumbuhan ikan hasil jantanisasi lebih cepat. Oneng mengamati jantan bukan hasil jantanisasi yang dipelihara, pertumbuhan bobot dan panjangnya tertinggal 20% dibanding jantan hasil jantanisasi ketika berumur 4 minggu. 'Perbedaan pertumbuhan terlihat memasuki minggu ketiga, sedangkan sampai pada minggu kedua relatif sama,' tutur Oneng.

Muhamad Sulhi, Spi, peneliti di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar), Bogor menuturkan, proses jantanisasi pada budidaya ikan konsumsi sekaligus berefek mempercepat pertumbuhan. -Jantan pada dasarnya memiliki pertumbuhan lebih cepat ketimbang betina karena nafsu makannya jauh lebih tinggi. Apalagi bila hasil jantanisasi,- katanya. Namun, Sulhi memperingatkan, 'Hati-hati penggunaan dosis'. Sebab, jika dosis berlebih berakibat fatal. Oneng contohnya. Gara-gara pakan campuran metiltestosteron dan pelet diberikan pagi dan sore, 300 ikan mas ukuran 4 cm mati. 'Cukup 1 kali sehari: pagi saja,' lanjutnya.

Menurut Adria kematian bibit saat proses sex reversal juga sering terjadi lantaran ikan stres. Jika menggunakan metiltestosteron impor, tingkat kematian larva mencapai 50%; hormon testis sapi hanya 20%. 'Itu karena metiltestosteron dari testis sapi bersifat alami,' kata alumnus Fakultas Biologi Universitas Nasional di Jakarta Selatan itu. Metiltestosteron dari testis sapi pun bebas residu, sehingga ketika ikan dikonsumsi nanti tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh. (Lastioro Anmi Tambunan)

Sumber : Majalah Trubus 2008

Artikel komplet tentang Nila Jantan ikuti link dibawah ini:
http://nilanirwana.blogspot.com/search?updated-min=2009-01-01T00%3A00%3A00-08%3A00&updated-max=2010-01-01T00%3A00%3A00-08%3A00&max-results=4